Rabu, 05 Januari 2011

" Pengorbanan "

Dua bersaudara dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil.
Seorang Kakak Perempuan dengan Adik lelakinya yang lebih muda 3 tahun



Hari demi hari, orang tuanya membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis disekelilingnya kelihatannya membawanya,
Si Kakak mencuri lima puluh sen dari laci ayahnya.
Ayahnya segera menyadarinya. Beliau membuat kedua bersaudara itu berlutut didepan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.:
" Siapa yang mencuri uang itu ?" Beliau bertanya.
Mereka terpaku, terlalu takut untuk berbicara.
Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan :
" Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul !".
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, si adik mencengkeram tangannya dan berkata :
" Ayah, aku yang melakukannya ! ".
Tongkat panjang itu menghantam punggung si adik bertubi-tubi.
Ayahnya begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata dan memarahi,:
" Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yangakan kamu lakukan di masa mendatang ? ... Kamu layak dipukul sampai mati ! Kamu pencuri tidak tahu malu !".
Malam itu, ibu dan anak - anaknya menangis saling berpelukan.
Tubuh si adik penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.
Di pertengahan malam itu, si kakak  tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.
si adik menutup mulutnya dengan tangan kecilnya dan berkata :
" Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi "

Si kakak masih selalu membenci dirinya karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin.
Dia tidak pernah akan lupa tampang adiknya ketika ia melindunginya.
Waktu itu, si adik berusia 8 tahun dan si kakak berusia 11.
Ketika adiknya berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk keSMA di pusat kabupaten.
Pada saat yang sama, si kakak diterima untuk masuk kesebuah universitas propinsi.
Malam itu, ayah mereka berjongkok di halaman,menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
2 bersaudara itu mendengarnya memberengut : " Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitubaik..."
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas. Sambil berkata :
" Apa gunanya ? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus ?".
Saat itu juga, si adik berjalan keluar ke hadapan ayahnya  dan berkata :
" Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku "
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya sambil berkata :
" Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya ?. Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai !".
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. sikakak menjulurkan tangannya  selembut yang dia bisa ke muka si adik yang membengkak, dan berkata :
" Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini ".
Dan sebaliknya si kakak telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan keuniversitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, si adik meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacangyang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkansecarik kertas di atas bantal
" Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang ".
si kakak memegang kertas tersebut di atas tempat tidur dan menangis dengan airmata bercucuran sampai suaranya hilang.
Tahun itu si adik berusia 17 tahun dan si kakak  20.
Dengan uang yang ayah mereka pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang si adik hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, si kakak akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas) .

Suatu hari, si kakak sedang belajar di kamar, ketika teman sekamarnya masuk dan memberitahukan :
" Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana !".
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku ? si kakak berjalan keluar, dan melihat si adik dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.
Si kakak bertanya :
" Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku ?"
Dia menjawab, tersenyum, " Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu ? Apa mereka tidak akan menertawakanmu ? "
si kakak  merasa terenyuh, dan air mata memenuhi matanya. Dia menyapu debu-debu dari adik semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-katanya :
" Aku tidak perduli omongan siapa pun ! Kamu adalah adikku apa pun juga ! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu ...".
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu.
Ia memakaikannya dirambut kakaknya, dan terus menjelaskan :
" Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu "
si kakak  tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. dia menarik adiknya ke dalampelukannya dan menangis dan menangis. Tahun itu, si adik berusia 20 dan si kakak 23.

Kali pertama si kakak membawa pacarnya ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana.
Setelah pacarnya pulang, dia menari seperti gadis kecil di depan ibunya.
" Bu, ibu tidak perlu menghabiskanbegitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita !"
Tetapi katanya, sambil tersenyum :
" Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya ? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu ... "
si kakak  masuk ke dalam ruangan kecil adiknya. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusuk hatinya.
si kakak mengoleskan sedikit salep pada luka adiknya dan membalut lukanya, lalu bertanya :
" Apakah itu sakit ?".
" Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi,batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan ..." Ditengah kalimat itu ia berhenti.
si kakak membalikkan tubuhnya memunggungi adiknya, dan air mata mengalir deras turun kewajahnya.
Tahun itu, siaadikku 23 dan si kakak berusia 26.

Ketika si kakak menikah dan tinggal di kota .
Seringkali mereka mengundang orang tuanya untuk datang dan tinggal bersama mereka, tetapi mereka tidak pernah mau dan mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa.
Si adik tidak setuju juga, mengatakan :
" Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini "

Suami si kakak menjadi direktur pabriknya dan mereka menginginkan si adik mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adiknya menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, si adik diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel,ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
si kakak dan Suaminyapergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kaki adiknya, saya menggerutu :
" Mengapa kamu menolak menjadi manajer ? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya ?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. :
" Pikirkan kakak ipar ... ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apayang akan dikirimkan ?"
Mata suami si kakak dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kata si kakak yang sepatah-sepatah:
" Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku !"
" Mengapa membicarakan masa lalu ?" Adiknya menggenggam tangan kakaknya
Tahun itu si adik berusia 26 dan si kakak 29.

Si Adik kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu.
Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya :
" Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi ?".
Tanpa bahkan berpikir ia menjawab : " Kakakku "
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat diingat kakanya :
" Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda.
Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah danpulang ke rumah.
Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku dan Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya.
Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya, Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya "
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepada kakaknya.
Kata-kata begitu susah terucapkan keluar bibirnya akhirnya keluar juga :
" Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku "
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahnya seperti sungai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar