Senin, 10 Januari 2011

" Setipis Kulit Ari "

Pasti kita semua pernah mendengar ungkapan, jarak antara benci dan cinta hanya setipis kulit ari.
Bahkan ada lagu yang syairnya benci-benci tapi rindu, gimana tuh masa benci tapi rindu.
Kita boleh tertawa, mengangguk-angguk pun boleh .
Gambaran cinta dan benci hanyalah salah satu contoh dari sekian banyaknya dua pola yang berlainan dalam kehidupan kita.
Misal, datang dan pergi, hidup dan mati, serta masih banyak lagi
Mungkin kita pernah atau bahkan sering mendengar ucapan dari teman atau saudara
“ Ahh, itu terlalu sulit untuk dilakukan, pasti nanti gagal.” Atau kalau boleh jujur kita sering mengucapkannya sendiri.


Kita pernah mendapatkan cerita yang menggelitik namun cukup membangkitkan rasa geregetan juga, masa kita manusia kalah dibandingkan katak.

Alkisah, suatu kala di perkampungan katak diadakan lomba memanjat menara yang menjulang tinggi di tengah-tengah perkampungan.
Di hari perlombaan banyak katak muda berkumpul untuk membuktikan siapa yang terhebat bahkan mereka terlibat obrolan yang menonjolkan kemampuan masing-masing.
Ada yang mengatakan sekali lompatan mampu mencapai jarak 1 meter, 2 meter dan lain-lain.
Akhirnya perlombaan pun dimulai, katak-katak muda bersemangat menunjukkan kemampuan mereka melompat.
Para penonton bersorak-sorai, namun ada pemandangan yang lain.
Nampak diurutan terbawah ada katak muda kecil yang begitu santai memanjat bukannya melompat.
Para penonton tidak menggubrisnya sama sekali karena sibuk melihat katak-katak lain yang sudah hampir setengah jalan. Kemudian dari kerumunan penonton ada yang berteriak “ Ah, mana mungkin bisa sampai di atas sana, terlampau tinggi, mata kita saja tak mampu melihat di mana puncaknya ”
Seketika itu para penonton pun bergumam keras “ Betul juga, kita saja tak mampu melihat puncaknya ”
Mendengar teriakan para penonton, peserta yang sudah setengah jalan merasakan kegamangan.


Satu persatu dari mereka berjatuhan.
“ Betul kan, mana mungkin bisa sampai puncak, rasanya mustahil ”
Teriakan penonton makin lama makin keras, seiring dengan itu makin banyak pula katak-katak yang jatuh.
Peserta yang jatuh merasakan begitu sulit mencapai puncak menara karena mata mereka juga tidak mampu melihat puncaknya.
Eitss tapi tunggu dulu, mengapa tiba-tiba ada taburan bunga dari atas. Bunga berwarna-warni, harum pula baunya. Ternyata ada seekor katak yang turun dari atas dan menaburkan bunga-bunga sembari berteriak dengan riang,
“ Aku menemukan bunga indah ini di atas sana, bunga yang kubagikan kepada kalian, hore, hore ”
Para penonton dan peserta yang gagal karena terjatuh sontak kaget bukan kepalang.
Mereka bertanya-tanya bagaimana katak yang satu ini bisa sampai di atas sana dan mengambil bunga yang elok dan harum padahal semuanya sudah merasakan ketidakmungkinan untuk mencapai puncak menara.
Kemudian ada penonton yang nyeletuk “ Bukankah itu katak muda yang memanjat tadi ?” para penonton dan peserta pun penasaran ingin tahu apa rahasianya katak muda ini bisa sampai di atas kemudian turun dengan membawa bunga-bunga yang indah.

Ketika ditanya berulangkali katak muda itu hanya berkata, “ Aku tidak dapat mendengar apapun dan aku tidak mengerti apa yang kalian katakan karena aku tuli, sedari di bawah tadi aku senang memperhatikan kalian semua menyemangati bahkan ketika aku tertinggal jauh di bawah dan teman-teman peserta lain meninggalkanku untuk beristirahat. Tak jemu-jemu kalian menyemangati, aku mengucapkan banyak terimakasih. Taburan bunga tadi sebagai hadiah untuk kalian semua ” Para penonton dan peserta lainnya melongo.


Itu hanya lah sepenggal cerita namun mewakili hampir seluruh aspek kehidupan kita.
Seperti di awal tulisan tadi mengenai ungkapan jarak antara benci dan cinta hanya setipis kulit ari.
Bukan hanya cinta dan benci kalau kita mau menelaah lebih dalam.
Kisah katak muda tadi menjadi contoh berapa banyak orang yang menyerah gara-gara teriakan tentang kesulitan, tentang ketidakmungkinan padahal kesuksesan hanya berjarak setipis kulit ari.
Memang bukan berarti kita harus menjadi tuli seperti katak muda tadi, tetapi kerendah hatian mendengar kritikan, kata-kata pesimis, olokan lah yang patut kita praktekkan untuk tetap konsisten sehingga meraih kemudahan dalam mencapai kesuksesan.
Bukankah gunung terasa datar jika kita telah mencapai puncaknya.
Jadi yakinlah Tuhan berkarya dalam setiap usaha anda walaupun kadang terasa sulit tapi setelah dijalani dengan kerendahan hati dan rasa syukur maka kesuksesan terasa mudah dan pada akhirnya bisa bermanfaat pula bagi sesama.

So, masih mau kalah dengan katak muda tadi  ???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar